Perjalanan Panjang UNPAR dari Hanya Satu Ruang Kuliah

Oleh: Tri Joko Her Riadi., S.S., M.A.,  (Dosen Integrated Arts Fakultas Filsafat UNPAR)

Pada 17 Januari 1955, tepat hari ini 67 tahun lalu, Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) Bandung memulai perjalanan panjangnya. Di sebuah gedung di Jalan Merdeka Nomor 32, Kota Bandung, dalam upacara yang amat sederhana, diresmikan Akademi Perniagaan Parahyangan atau dalam ejaan ketika itu, Akademi Perniagaan Parahiangan. Akademi itulah yang kemudian tercatat sebagai perguruan tinggi Katolik pertama di Indonesia.

Dua tokoh pendirinya
adalah Mgr. Petrus Marimus Arntz, OSC dan Mgr. Nicolaus Johannes Cornelis
Geise, OFM. Mgr. Arntz, yang ketika itu menjabat Vikaris Apostolik Bandung,
kemudian menjadi Uskup Keuskupan Bandung. Sementara Mgr. Geise, yang waktu itu
menjabat Prefek Apostolik Sukabumi, kemudian menjadi Uskup Keuskupan Bogor.

Sama-sama memiliki
kepedulian terhadap dunia pendidikan dengan latar belakangnya sebagai pengajar,
kedua pastor itu membuat keputusan berani mendirikan perguruan tinggi Katolik
yang sebenarnya sudah dibahas secara serius oleh para waligereja se-Jawa
setidaknya sejak 1952. Ketika itu diusulkan agar yang pertama didirikan adalah
sebuah institut bahasa di Bandung.

Meski keinginan
mendirikan universitas sudah tersebar luas di tengah umat Katolik Indonesia,
langkah mewujudkannya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada sedikitnya
dua keraguan yang dihadapi waligereja ketika itu, yakni manfaat perguruan
tinggi Katolik bagi daerah-daerah di luar Jawa dan beban biaya pengelolaannya
yang pastilah tidak murah.

Dalam suasana gamang
seperti itulah, ditambah desakan dari tokoh-tokoh Katolik seperti Ignatius
Joseph Kasimo Hendrowahyono, Mgr. Arntz dan Mgr. Geise tampil sebagai pionir.
Bukan institut bahasa yang mereka dirikan di Bandung, tapi sebuah akademi
perniagaan yang diyakini akan memiliki manfaat praktis secara langsung dalam
kehidupan masyarakat.

“Gagasan untuk
mendirikan Unpar bukan ide saya, melainkan dari umat Katolik yang mendesak MAWI
(Majelis Agung Waligereja Indonesia, sekarang Konferensi Wali Gereja
Indonesia/KWI) agar mencontoh apa yang dilakukan pihak Protestan dan kalangan
agama lainnya, yakni mendirikan perguruan tinggi swasta. Kalau mereka bisa,
mengapa Katolik tidak?” ujar Mgr. Geise dengan rendah hati, dikutip dari
buku Persembahan kepada Nusa Pertiwi: Enam Puluh Tahun Universitas
Katolik Parahyangan 1955-2015
 (2015).

Dari kampus dengan satu ruang kuliah di Jalan Merdeka, kini UNPAR kokoh sebagai salah satu perguruan tinggi swasta terpercaya di Indonesia dengan kampus utamanya di Jalan Ciumbuleuit, Bandung.  

Kenapa
di Bandung?

Adalah I. G. Kasimo
yang menyodorkan Kota Bandung sebagai lokasi pendirian perguran tinggi Katolik
Pertama di Indonesia. Tokoh pendiri Partai Katolik Indonesia itu
menyampaikannya ketika bersama delegasi umat Katolik menemui para waligereja
se-Jawa yang sedang berkumpul di Jakarta.  

Tentu ada
alasan-alasan kuat kenapa harus Bandung dan bukan di kota lain di Indonesia.
Salah satunya, pada pertengahan dasawarsa 1950-an itu, Bandung sudah menjelma
kota pendidikan dengan keberadaan beberapa perguruan tinggi, baik negeri maupun
swasta.

Hampir semua kampus
negeri di Bandung ketika itu merupakan bagian dari Universitas Indonesia.
Selain Fakultas Teknik, ada Fakultas Ilmu Pasti dan Pengetahuan Alam. Juga
terdapat dua akademi, yakni Akademi Pendidikan Djasmani dan Akademi Seni Rupa.

Untuk perguruan
tinggi swasta, sudah ada Universitas Merdeka dan Universitas Sawerigading
(Unsa).

Selain lingkungan akademik yang relatif sudah kuat, Bandung terbukti juga menyediakan sokongan sosial-politik yang memungkinkan perguruan tinggi Katolik berkembang. Tokoh-tokoh masyarakat di Bandung, dan juga Jawa Barat secara umum, menyambut baik pendirian dan pengembangan UNPAR.

Wali Kota Bandung R. Enoch menghadiri perayaan dies natalis pertama pada 17 Januari 1956. Gubernur Jawa Barat R. Moh. Sanusi Hardjadinata juga menunjukkan dukungannya ke UNPAR.  

“Yang merupakan
keuntungan bagi Perguruan Tinggi Sosial Ekonomi Parahyangan waktu itu hanyalah
bahwa masyarakat Kota Bandung khususnya memberikan dukungan yang baik, antara
lain dengan kesediaan para tokoh masyarakat Jawa Barat untuk duduk dalam Dewan
Kurator tahun 1957,” demikian tertulis dalam buku Lustrum VII Universitas
Katolik Parahyangan (1950-1990) sebagaimana dikutip oleh buku Persembahan
kepada Nusa Pertiwi: Enam Puluh Tahun Universitas Katolik Parahyangan 1955-2015
 (2015). 

Bulan-bulan
Pertama

Sama seperti semua
lembaga lain, bulan-bulan pertama Akademi Perniagaan Parahyangan bukan waktu
yang mudah. Gedung di Jalan Merdeka yang digunakan sebagai kampus itu hanya
memiliki satu ruang kuliah. Konon, ruangan itu adalah bekas kamar tidur
mahasiswa. Sementara itu, ruang depan gedung itu digunakan sebagai kantor
administrasi.  

“Meskipun hanya
menggunakan satu ruangan kuliah, tetapi hal ini tidak menjadi masalah karena
mahasiswanya baru satu angkatan sehingga tidak ada kuliah-kuliah yang bersamaan
waktu,” tulis Hasan Sidik, satu dari 38 orang mahasiswa angkatan pertama.

Dari satu ruang
kuliah, kampus Akademi Perniagaan Parahyangan terus berkembang. Tambahan
ruangan diperoleh di kompleks Santa Angela, Jalan Merdeka.

Jalan Merdeka ketika
itu masih lengang. Tidak seperti sekarang yang jadi jalur utama aktivitas warga
Bandung. Perkuliahan, yang dilangsungkan pada sore hari, berjalan dengan tenang
bagi para mahasiswa yang sebagian besar datang ke kampus dengan bersepeda atau
berjalan kaki.

Tonggak-tonggak
Perjalanan

Kampus rintisan Mgr.
Arntz dan Mgr. Geise di Jalan Merdeka itu terus tumbuh membesar. Salah satunya
lewat pembukaan fakultas-fakultas baru. Tonggak-tonggak perjalanannya dapat
disimak di situs resmi Unpar.

Pada bulan Agustus 1955, Akademi Perniagaan Parahyangan berubah menjadi Perguruan Tinggi Sosio Ekonomi Parahyangan. Inilah cikal bakal Fakultas Ekonomi UNPAR sekarang.

Pada 15 September
1958, nama Perguruan Tinggi Sosio Ekonomi Parahyangan diubah menjadi Perguruan
Tinggi Katolik Parahyangan. Bersamaan dengan itu, Fakultas Hukum dibuka.

Pada 31 Oktober 1958,
dibentuk yayasan yang berstatus badan hukum sebagai penyelenggara Perguruan
Tinggi Katolik Parahyangan.

Pada tahun 1960,
Fakultas Teknik dibuka dengan dua jurusannya, yakni Teknik Sipil dan Teknik
Arsitektur.

Pada tahun 1961,
dibuka Fakultas Sosial Politik. Masih di tahun yang sama, nama Perguruan Tinggi
Katolik Parahyangan diganti menjadi Universitas Katolik Parahyangan.

Pada 19 April 1962, UNPAR ditetapkan sebagai perguruan tinggi dengan status disamakan dengan perguruan tinggi negeri.

Pada 1 Januari 1983, Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Suryagung Bumi bergabung ke UNPAR sebagai Fakultas Filsafat.

Pada
tahun 1993, dibuka dua fakultas baru, yakni Fakultas Teknologi Industri dan
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. 

Tulisan tersebut merupakan republikasi dari BandungBergerak.id yang telah dimuat pada 17 Januari 2022 dengan judul “Perjalanan Panjang Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) Bandung dari Hanya Satu Ruang Kuliah”.

Artikel Perjalanan Panjang UNPAR dari Hanya Satu Ruang Kuliah diambil dari situs web Universitas Katolik Parahyangan.

Berita Terkini

Menilik Relasi Masyarakat Baduy dan Agama dalam Sudut Pandang Geise

Menilik Relasi Masyarakat Baduy dan Agama dalam Sudut Pandang Geise

UNPAR.AC.ID, Bandung – Sampai saat ini, masyarakat sering kali menghakimi atau mendiskriminasi suatu golongan tertentu yang masih kental dengan adat serta budaya seperti masyarakat adat, serta mengaitkannya dengan agama. Namun, Mgr. Geise, seorang misionaris sekaligus...

Kontak Media

Divisi Publikasi

Kantor Pemasaran dan Admisi, Universitas Katolik Parahyangan

Jln. Ciumbuleuit No. 94 Bandung
40141 Jawa Barat

Jan 28, 2022

X